Wasiat Rasululloh Saw kepada abu Dzar

21 05 2008

Abu Dzar Al-Ghifari berkata: pada suatu hari aku datang kepada
Rasulullah saw, saat itu beliau berada di masjidnya dan tidak ada
seorang pun di dalamnya kecuali Rasulullah saw dan Ali (sa) berada di
sampingnya. Dalam suasana yang sunyi di dalam masjid aku berkata
kepada beliau: Ya Rasulallah, demi ayahku dan ibuku, berilah aku suatu
wasiat yang dengannya Allah memberi manfaat padaku.

Rasulullah saw bersabda: “Baiklah Abu Dzar, aku memuliakanmu, karena
kamu termasuk golongan kami Ahlul bait. Aku wasiatkan padamu suatu
wasiat, maka jagalah wasiat ini. Karena wasiat ini meliputi kebaikan
dan jalan-jalannya. Jika kamu menjaganya, maka dengannya kamu akan
seperti fulan.

Wahai Abu Dzar, sembahlah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika
kamu tidak mampu melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Ketahuilah!
Sesungguhnya awal ibadah kepada Allah adalah pengenalan terhadap-Nya,
Dialah Yang Awal sebelum segala sesuatu, sehingga tidak ada sesuatu
sebelum-Nya. Keesaan-Nya tidak ada yang kedua bagi-Nya; keabadian-Nya
tak berakhir; Dialah Pencipta langit dan bumi, dan segala isinya serta
yang ada di antara keduanya. Dia Maha Lembut dan Maha Mengetahui; Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kemudian beriman padaku, mengakui bahwa Allah swt telah mengutusku
bagi seluruh manusia, untuk menyampaikan berita bahagia dan berita
yang menakutkan, mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, menjadi pelita
dan cahaya yang menerangi.

Selanjutnya, mencintai Ahlul baitku yaitu mereka yang telah dijaga
oleh Allah dari segala noda dan disucikan dengan sesuci-sucinya.

Ketahuilah wahai Abu Dzar: Sesungguhnya Allah azza wa jalla telah
menjadikan Ahlul baitku bagi umatku seperti bahtera Nuh, orang yang
menaikinya akan selamat dan orang yang membencinya akan tenggelam.
Ahlul baitku juga seperti pintu hiththah Bani Israil, orang yang
memasuki akan aman.

Wahai Abu Dzar, jagalah wasiatku ini maka kamu akan bahagia di dunia
dan akhirat.
Wahai Abu Dzar, ada dua kenikmatan yang diingin oleh umumnya manusia:
kesehatan dan kekosongan hati (tidak terbebani oleh urusan dunia).

Wahai Abu Dzar, manfaatkan dengan sungguh-sungguh tentang lima hal
sebelum (datang) lima hal: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum
sakitmu, kekayaanmu sebelum kefakiranmu, kekosonganmu sebelum
kesibukanmu, hidupmu sebelum matimu.

Wahai Abu Dzar, janganlah menunda amalmu hari ini karena kamu tidak
tahu hari esok. Jika kamu masih ada pada hari esoknya, maka jadikan
hari esok seperti hari ini. Jika kamu tidak ada hari esok, maka kamu
tidak akan menyesali apa yang kamu lalui hari ini.

Wahai Abu Dzar, betapa banyak masa depan yang tak tersempurnakan, dan
menunggu hari esok yang tak dapat menyampaikan.

Wahai Abu Dzar, sekiranya kamu melihat ajalmu dan perjalanannya
niscaya kamu akan marah pada angan-angan dan tipudayanya.

Wahai Abu Dzar, jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang
yang melintasi jalan. Hitunglah dirimu bagian dari penghuni kubur.

Wahai Abu Dzar, jika kamu berada di pagi hari maka jangan jadikan
dirimu sore hari, jika kamu berada di sore hari maka jangan jadikan
dirimu pagi hari. Manfaatkan sehatmu sebelum datang sakitmu, hidupmu
sebelum matimu, karena kamu tidak tahu apa namamu esok hari.

Wahai Abu Dzar, waspadai kejatuhanmu diketahui saat ketergelinciranmu,
sehingga itu tak dapat dikatakan tergelincir. Kamu tak akan dapat
kembali. Tak akan terpunji oleh orang sesudahmu apa yang kamu
tinggalkan. Dan tak dapat beralasan pada orang sebelummu dengan
kesibukan. (Makarimul Akhlaq, Syeikh Ath-Thabrasi: 459)


Actions

Information

Leave a comment